Gila Kiu - Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) telah membuka penyelidikan atas kasus diskriminasi di turnamen Euro 2020. Penyelidikan oleh UEFA ini sebagai tanggapan atas laporan dua pertandingan penyisihan grup Piala Eropa yang diadakan di Hungaria.
Sejauh ini, Hongaria, yang dipimpin oleh Viktor Orban, telah menjadi salah satu negara Eropa yang paling konservatif. Bahkan pemimpin sayap kanan itu sering mengkritik dan mengkritisi kelompok LGBT.
UEFA menerima laporan diskriminasi dalam pertandingan Euro 2020
Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) mengumumkan pada Minggu (20/6/2021) bahwa mereka sedang menyelidiki potensi insiden diskriminasi dalam dua pertandingan Grup F di Stadion Puska, Hungaria. Stadion yang terletak di kota Budapest itu sebelumnya digunakan dalam pertandingan yang diselenggarakan oleh Hungaria melawan Portugal dan Prancis.
UEFA telah menugaskan inspektur etika dan disiplin UEFA untuk menyelidiki tuduhan diskriminasi di turnamen besar ini. Sementara kasus ini dilaporkan oleh Fare yang telah memantau insiden rasisme dan segala bentuk diskriminasi lainnya dalam pertandingan sepak bola, dilansir dari ESPN.
Ada sebutan rasisme dan anti-LGBT dari penggemar Hungaria
https://twitter.com/david_conn/status/1406320833245679616
Dilansir dari Al Jazeera, pada laga pertama Grup F antara Hungaria dan Portugal di Budapest, diketahui sebuah gambar di media sosial bertuliskan Anti-LGBTQ. Sementara itu, pada pertandingan Hungaria vs Prancis, terdapat spanduk bergambar pemain tidak boleh berlutut untuk melindungi rasisme.
Bahkan dalam pertandingan Hungaria melawan Prancis, ada sejumlah tindakan rasisme terhadap Kylian Mbappe yang dikaitkan dengan monyet melalui lagu saat memegang bola. Selain itu, penyerang asal Prancis, Karim Benzema juga tak luput dari sasaran serangan suporter Hungaria.
Di sisi lain, Budapest adalah satu-satunya kota tuan rumah Euro 2020 yang mengizinkan pertandingan dengan penonton penuh.
Lampu pelangi akan menyala di Allianz Arena
Kasus anti-LGBTQ dan rasisme di laga Euro 2020 juga terkait dengan disahkannya undang-undang kontroversial di Hungaria. Dengan disahkannya peraturan tersebut, pemerintah secara resmi melarang penyebaran konten terkait homoseksualitas dan perubahan gender di sekolah.
Setelah peraturan itu disahkan, Walikota Munich Dieter Reiter mengatakan, Minggu (20/6/2021) ia akan meminta izin UEFA untuk menyalakan lampu pelangi di Allianz Arena, saat pertandingan Hungaria vs Jerman. Ini dimaksudkan untuk memprotes undang-undang anti-LGBTQ baru Hungaria.
Menteri Luar Negeri Hungaria Peter Szijjarto ikut mengkritik upaya walikota Munich untuk menyalakan lampu pelangi. Szijjarto mengatakan bahwa politik harus dijauhkan dari semua acara olahraga, lapor Reuters.



0 Comments